15. "Tenangati Resort" menghadapi situasi paradoksal pada kuartal IV-2025. Terjadi tekanan likuiditas (arus kas) akibat investasi besar pada sistem smart-room berbasis AI. Manajemen holding mengusulkan penundaan biaya preventive maintenance (departemen level 2) sebesar Rp 1.500.000.000,00 untuk mengamankan laba akrual sesuai target bonus tahunan. Namun, audit teknis menunjukkan bahwa secara fakta, umur manfaat sistem pendingin sentral (chiller) hanya tersisa 2 tahun akibat korosi air laut, padahal secara akuntansi (penyusutan garis lurus) masih tersisa 5 tahun. Jika pemeliharaan ditunda, risiko kegagalan sistem meningkat 40%, yang akan memicu pengembalian dana (refund) massal dan penghancuran nilai ekuitas merek.
Data Pendukung Kuartal IV-2025:
1. Pendapatan:
• Kamar Rp 30.000.000,00
• F&B Rp 15.000.000,00
• MICE Rp 20.000.000,00
2. Biaya Langsung:
• Kamar (30%),
• F&B (50%),
• MICE (65%).
3. Departemen Penunjang:
• IT & AI (departemen level 1) Rp 3.000.000.000,00
• Engineering (departemen level 2) Rp 5.000.000.000,00
4. Alokasi Step-Down:
• Departemen level 1 ke departemen level 2 sebesar 15%,
• Sisa departemen level 1 dan level 2 dialokasikan ke unit operasi berdasarkan jam kerja teknis
Kamar: 50%, F&B: 20%, MICE: 30%.
5. Penyusutan sesuai akrual dibanding umur pakai alat sesuai fakta:
• Beban penyusutan akuntansi saat ini Rp 1.000.000.000,00/kuartal. Jika disesuaikan dengan fakta teknis (umur lebih pendek), beban penyusutan harus naik menjadi Rp 2.500.000.000,00/kuartal.
Dalam menyusun Service Costing Report, manakah tindakan akuntansi manajemen yang paling tepat untuk menghindari financial myopia dan menyajikan profitabilitas yang jujur?